Rabu, 19 Oktober 2016

Membangun Kebersamaan dalam Keluarga Menuju Keluarga yang Berkualitas

"Harta yang paling berharga adalah keluarga”
“Istana yang paling indah adalah keluarga”
“Puisi yang paling bermakna adalah keluarga”
“Mutiara tiada tara adalah keluarga”
keluarga-sakinah 
Anda tentu ingat sepenggal syair soundtrack sinetron Keluarga Cemara yang sempat menghiasi layar kaca televisi pada tahun 1996-2002 di salah satu TV Swasta di Indonesia . Sinetron tersebut sarat akan nilai edukasi, moral, susila, adat budaya yang menonjolkan kearifan lokal budaya Indonesia dan dikemas dengan apik dan sederhana, tetapi tetap menghibur  pemirsanya. Sungguh sangat disayangkan, sinetron bergenre keluarga tersebut saat ini sudah tidak ditayangkan lagi dan belum ada sinetron lain yang dapat menggantikan posisi sinetron bergenre keluarga yang dapat mengedukasi pemirsanya seperti sinetron keluarga cemara.
Keluarga cemara mengisahkan tentang sebuah keluarga yang hidup dengan kesederhanaan dan keikhlasan. Abah adalah seorang ayah yang sabar, pantang menyerah menghadapi cobaan hidup, dan tetap semangat menjalankan perannya sebagai kepala keluarga meskipun ia harus bersusah payah mengayuh becak demi menghidupi keluarganya. Hal ini tentulah tidak mudah bagi abah, karena pada awalnya ia adalah seorang pengusaha kaya raya yang tiba-tiba jatuh miskin. Karakter Emak, tidak kalah penting dalam kisah ini. Emak digambarkan sebagai seorang istri yang sabar, setia  dan ikhlas mengabdikan dirinya demi kebahagiaan keluarganya. Kisah ini semakin seru dengan adanya ketiga anak yang dimilikinya, dimana masing-masing hadir dengan karakter yang berbeda-beda dan saling melengkapi. Adalah Euis, anak pertama yang penuh pengertian dengan kondisi orang tuanya; Ara anak kedua yang digambarkan sebagai anak yang pintar, rajin dan tabah; serta Agil anak ketiganya yang digambarkan sebagai anak yang lugu dan polos. Pancaran kasih sayang yang terjalin dalam keluarga ini benar-benar tulus dan tidak mengada-ada. Jika kita amati cerita Keluarga Cemara benar-benar menggambarkan potret keluarga yang berhasil menjalankan nilai fungsi keluarga.

Banyak cara yang dapat ditempuh untuk melakukan revitalisasi fungsi keluarga, salah satunya adalah membangun kebersamaan dalam keluarga. Membangun kebersamaan dalam keluarga dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain:
1.    Melakukan aktivitas keagamaan bersama.
Aktivitas keagamaan yang dimaksud disini adalah sholat berjamaah bagi yang beragama islam, mengikuti kajian keagamaan yang ada di lingkungan sekitar/tempat tinggal, mengajak anggota keluarga mengunjungi dan menyantuni fakir miskin dan anak yatim piatu terutama yang masih ada hubungan kerabat dekat dan yang tinggal di yayasan-yayasan yang ada, dan sebagainya.
2.    Makan bersama.
Kegiatan makan bersama dapat dilakukan baik di rumah maupun di luar rumah (restoran/rumah makan favorit keluarga). Pada saat makan bersama, orangtua maupun anak-anak dapat saling bercerita aktivitas yang sudah dilakukan selama seharian, sehingga masing-masing anggota keluarga mengetahui dan memahami aktivitas anggota keluarganya. Sesekali waktu perlu dijadwalkan untuk makan bersama anggota keluarga di restoran favorit keluarga sebagai variasi agar tidak bosan dengan menu atau suasana makan yang ada di rumah.
3.    Menonton televisi bersama.
Bila dimungkinkan hindari untuk mempunyai televisi lebih dari satu di rumah. Hal ini dimaksudkan agar masing-masing anggota keluarga dapat berkumpul di ruang keluarga dan menonton acara televisi bersama sembari mengobrol santai tentang acara yang ditonton. Momen ini juga sangat penting bagi orangtua, terutama yang mempunyai anak usia balita dan sekolah dasar, agar mengarahkan anaknya untuk memilih tontonan/hiburan yang mempunyai nilai edukasi, sebagai upaya untuk menepis dampak negatif acara televisi. Pada saat menonton televisi, orangtua juga dapat mengenalkan nilai-nilai luhur dari acara yang sedang ditonton seperti nilai ketuhanan (tontonan bergenre dakwah), nilai sosial budaya (tontonan yang bergenre seni budaya), toleransi, ketabahan dan sebagainya.
4.    Mendampingi anak belajar.
Sesibuk apapun pekerjaan kita, usahakan untuk tetap meluangkan waktu untuk mendampingi anak belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah. Hal ini dimaksudkan agar kita mengetahui perkembangan sekolah anak kita, dan membantu mencari jalan keluar atas kesulitan atau permasalahan yang dihadapi oleh anak kita disekolah.
5.    Mendongeng.
Banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa aktivitas mendongeng yang dilakukan oleh orang tua dengan anaknya sangat bermanfaat bagi perkembangan kecerdasan emosi anak. Kecerdasan emosi merupakan faktor penentu paling besar dalam menentukan kesuksesan anak dimasa yang akan datang.
6.    Bermain bersama anak.
Bermain bersama anak dapat dilakukan dengan cara bermain kuda-kudaan, bermain peran, membuat kolase bersama, membuat origami atau permainan lain yang menjadi favorit anak.
7.    Belanja bersama.
Ajaklah anggota keluarga untuk ikut belanja bersama seperti belanja ke pasar tradisional, supermarket, mall dan berikan kesempatan pada mereka untuk memilih barang yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sesuai dengan keinginannya. Jika memang diperlukan, buat kesepakatan dengan mereka barang apa saja dan berapa jumlah nominal uang yang boleh dibelanjakan sesuai dengan keinginan mereka asal mereka bertanggung jawab dengan pilihannya.
8.    Masak bersama.
Hal ini perlu dicoba terutama bagi pasangan muda yang mempunyai anak usia 4 s.d 10 tahun. Anak-anak usia 4 s.d 10 biasanya sangat tertarik pada aktivitas memasak di dapur terutama masakan menu favoritnya. Keingintahuan mereka akan cara memasak menu favoritnya biasanya cukup tinggi. Tidak sedikit dari anak-anak ini ingin mengambil peran orangtua yang sedang memasak menu favoritnya yang tentunya dengan kreasi mereka sendiri. Hal ini juga penting untuk melatih kemandirian anak, terutama untuk anak-anak yang memiliki orang tua yang aktivitasnya tinggi apabila sewaktu-waktu mereka ditinggal tugas orangtuanya dan harus menyiapkan makanannya sendiri. Tetapi yang harus diingat adalah tanamkan pengertian pada anak (usia 4 s.d 10 tahun) tentang penggunaan kompor yang baik dan benar agar terhindar dari resiko kebakaran.
9.    Momen bebas.
Momen bebas yang dimaksud disini adalah memberikan kesempatan kepada masing-masing anggota keluarga untuk melakukan aktivitas yang disukai dalam suatu waktu tertentu. Untuk melakukan momen bebas perlu ada kesepakatan antar anggota keluarga, yang mana masing-masing anggota keluarga harus memegang komitmen yang telah disepakati dalam keluarga tersebut.
10.    Liburan bersama.
Liburan bersama seyogyanya dijadwalkan minimal satu tahun sekali. Liburan bersama tidak harus memilih tempat yang jauh dan butuh biaya yang mahal untuk mengunjunginya, sesuaikan dengan anggaran dan kemampuan yang ada. Yang terpenting adalah usahakan agar semua anggota keluarga bisa ikut dalam liburan bersama.
Ini adalah sebagian kecil contoh aktivitas sederhana yang dapat kita lakukan bersama keluarga untuk menumbuhkan rasa kebersamaan dalam keluarga sebagai upaya untuk menginternalisasi delapan fungsi keluarga demi terciptanya keluarga yang berkualitas. (tam)

Poskan Komentar